Sensasi Bersepeda saat Akhir Pekan di Kota Bandung

bersepeda-di-bandung.jpg
 
Predikat “kota kembang” diberikan pada Kota Bandung karena eksotisme lanskapnya. Menurut Wikipedia, istilah ini terlahir dari keberadaan berbagai jenis pohon dan bunga-bunga yang tumbuh mekar di sana sejak zaman dahulu. Terlebih, Bandung berada di ketinggian 768 mdpl—atau 760 meter lebih tinggi dari Kota Jakarta. Tak mengherankan bila Bandung selalu menjadi salah satu kota tujuan utama pariwisata, terutama di akhir pekan.

Satu aktivitas akhir pekan yang kian ramai diminati masyarakat Bandung maupun pelancong meski masih dalam kondisi pandemi adalah bersepeda. Fenomena ini didasari oleh larangan berkumpul dari pemerintah namun adanya kebutuhan untuk tetap sehat. Untung saja, sejak pertengahan tahun 2020, Pemerintah Kota Bandung sudah memfasilitasi tren terbaru masyarakat ini dengan jalur-jalur sepeda.

Dilansir dari situs Portal Sepeda, setidaknya sudah ada 7 jalur bersepeda di pusat Kota Bandung, yakni:
  • Jalur Asia Afrika: Jalur sepanjang 1,1 km ini membentang dari Tugu Simpang Lima sampai Jembatan Alun-Alun Timur. Mengayuh sepeda di jalur ini akan memberikan kesan padat dan melankolis. Pasalnya, Jalur Asia Afrika berada di pusat ekonomi dan administrasi Kota Bandung yang banyak dihuni oleh gedung-gedung tua.
 
  • Jalur Balai Kota: Jalur dengan panjang 1,1 km ini dimulai dari Jalan Aceh, menuju Jalan Merdeka, Perintis Kemerdekaan, sampai Wastukencana. Bersepeda di sini akan menghadirkan kesan sejuk, sedikit modern, namun tetap ada sentuhan zaman dahulu. Sebab, Jalur Balai Kota dipayungi oleh pepohonan dan mempunyai beberapa mal lawas Kota Bandung.
 
  • Jalur Saparua: Jalur sejauh 1,3 km ini mengitari Jalan Aceh, Banda, Ambon, sampai Jalan Saparua. Kalau ingin memanfaatkan sepeda sebagai alat olahraga, maka jalur ini merupakan jalur yang tepat. Sebab, Jalur Saparua mengelilingi GOR dan Taman Saparua, yang kerap dijadikan pusat aktivitas olahraga oleh masyarakat Bandung.
 
  • Jalur Dago: Jalur Dago adalah jalur terpanjang pesepeda Kota Bandung. Dengan total 4,7 km, jalur ini dimulai dari Jalan Ir. H Juanda (Persimpangan Jalan R E Martadinata) hingga Terminal Angkutan Umum Dago. Bisa dibilang, bersepeda di sini tidak cocok untuk orang yang ingin mengayuh dengan santai. Pasalnya, jalur ini memiliki kemiringan yang cukup tinggi. Sehingga, kayuhan menuju Dago Atas (Terminal Dago) akan melelahkan. Meski begitu, lanskap Dago yang rimbun akan menemani pesepeda di trek ini.
 
  • Jalur Dipatiukur: Jalur sepanjang 3,3 km ini membentang dari Jalan Diponegoro menuju Jalan Aria Jipang, Prabu Dimuntur, Surapati, Panatayuda, lalu Jalan Dipatiukur. Tak ada satu-dua kesan khusus yang diberikan jalur ini, sebab Jalur Dipatiukur melewati banyak jalan dengan ciri khas berbeda-beda. Meski begitu, pesepeda dapat melihat Gedung Sate, Lapangan Gasibu, sampai Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat ditemani semilir angin sejuk Kota Bandung.
 
  • Jalur Surapati: Jalur sepanjang 1,4 km ini melewati Jalan Surapati, pertigaan Jalan Cagak, lalu perempatan Cikapayang. Kesan ramai dan padat akan ditemui pesepeda tatkala melewati Jalur Surapati. Sebab, jalan ini berada tepat di bawah Jalan Layang Pasupati dan sering menjadi lokasi kemacetan kendaraan pribadi.
 
  • Jalur Buah Batu: Ruas jalur sepanjang 1,1 km ini melewati Jalan Buah Batu dari persimpang Pelajar Pejuang Buah Batu sampai persimpangan Jalan Cilentah. Kuno, melankolis, dan jauh dari hiruk-pikuk adalah kesan yang akan pesepeda rasakan saat melalui jalur ini. Sebab, Jalur Buah Batu terletak di sebelah tenggara Kota Bandung.

Biarpun ada di wilayah yang sama, ternyata sensasi bersepeda di jalur-jalur Kota Bandung bisa berbeda, ya? Kalau kamu penggemar sepeda yang akan bermalam di hotel di Bandung, jangan lupa coba jajal jalur-jalur di atas, ya!